anak durhaka kediri

Militan.co.id – Anak Durhaka Dari Ngablak Kediri Tega Polisikan Sang Ibu, Begini Kisahnya, Malin Kundang merupakan sebuah legenda rakyat Indonesia yang membuktikan bahwa anak durhaka tidak akan selamat di dunia. Ternyata hal tersebut juga ada di jaman modern. Terjadi pada sang Ibu Sumiati warga Desa Ngablak, Kec Banyakan, Kediri. Sang ibu harus berususan dengan polisi karena anaknya sendiri hanya soal warisan.

Janda tua ini harus berhadapan dengan dua orang anaknya Emi Asih, anak sulung dan Lalan Suwanto, anak keempatnya di muka majelis Pengadilan Negeri Kabupaten Kediri, Selasa (19/9).

Kuasa hukum Emi Asih dan Lalan Suwanto, Priyo menjelaskan kliennya terpaksa melayangkan gugatan karena kecewa tak mendapat hak waris. Penyebabnya, almarhum ayahnya telah menulis surat wasiat sebelum meninggal dunia agar membagi harta waris berupa lahan dan bangunan rumah untuk kelima orang anaknya dan istrinya.

Peninggalan sang ayah telah beralih tangan kepada orang lain. Peralihan hak tersebut baru diketahui setelah Pengadilan Negeri Kabupaten Kediri melakukan eksekusi. Sebab, lahan seluas 1.300 meter dan diatasnya berdiri sebuah rumah itu dijadikan jaminan utang oleh tergugat. Tetapi, dalam perjalannya tergugat tidak sanggup melunasi.

Enik Murtini, anak bungsu tergugat turut serta dalam proses pengajuan utang tersebut. Oleh sebab itu, dia dihadirkan dalam persidangan untuk dimintai keterangan. Seusai diperiksa, Anik mengakui kesalahannya. Dia juga meminta maaf kepada kedua kakaknya.

Baca juga : Doa Akhir Tahun Hijriah Beserta Artinya

anak durhaka ngablas“Dengan sepenuh hati kami mengakui kesalahan. Kami dan ibu, lalu kakak Pujiono meminta maaf. Kita benar-benar salah,” kata Enik.

Dia tampak sangat bersedih. Saat menyampaikan permintaan maaf, matanya sembab, seolah hendak menangis tetapi malu.

Enik merasa paling bersalah dari peristiwa yang dialami ibu kandungnya. Sebab, dirinya yang merasa memiliki andil besar mengajukan pinjaman dengan agunan sertifikat rumah peninggalan orang tuanya. Dia tidak menyangka, persoalannya menjadi serunyam ini, hingga menyakiti saudaranya sendiri.

Enik bercerita, awalnya dia ingin memulai usaha budidaya ayam petelor. Tetapi dia tidak memiliki modal. Akhirnya Enik merayu ibunya agar meminjam uang. Lalu, mereka bertemu dengan Bambang Hartono, warga Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri. Dia kemudian menjaminkan sertifikat tanah warisan sebagai jaminan utang kepada Bambang Hartono.

“Menurut pak Bambang sertifikat tersebut dijaminkan ke bank untuk mengutang. Akhirnya cair uang pinjaman sebesar Rp 120 juta. Dari jumlah itu, Rp 70 juta diberikan kepada saya, sedangkan sisanya Rp 50 juta dipakai pak Bambang. Uang itu kemudian saya pakai modal usaha,” jelas Ernik.

Enik meminjam uang melalui bantuan Bambang dengan alasan saat itu usahanya baru saja dirintis. Tentunya, bank tidak akan memberikan pinjaman. Berbeda dengan Bambang. Terlebih, Enik bebranggapan hanya berurusan secara pribadi dengan Bambang dan tidak berkaitan dengan perbankan.

Dalam proses pengajuan pinjaman ini, Enik dan ibunya tidak melibatkan penggugat. Sebab, keduanya berada di luar wilayah Kediri. Sementara dua saudaranya yang di Kediri hanya dimintai tanda tangan sebagai bukti kesediaanya.

“Saya sedang buka usaha ayam petelur. Tetapi dalam perjalanan kami, usaha kami mengalami kebangkrutan. Kami tidak bisa mengangsur. Akhirnya rumah dieksekusi oleh bank dan lalu dilelang. Sampai akhirnya jatuh kepada pemenang lelang. Kedua kakak saya baru mengetahui setelah di pengadilan saat akan dilangsungkan eksekusi,” ujarnya.

Menurut Priyo, jual beli lahan dan bangunan tersebut cacat hukum. Sebab, penggugat tidak memberikan tanda tangannya. Padahal lahan dan bangunan tersebut adalah hak waris peninggalan almarhum orang tuanya. Alasan yang lain karena penggugat memiliki hak yang sama dengan anak-anak yang lain.

Rumah disita dan numpang tinggal di tempat anjal

Perempuan yang usianya sudah senja tersebut kini tinggal bersama anak-anak jalanan. Dia numpang di Rumah Karya, sebuah rumah yang disediakan Pemerintah Kota Kediri untuk membina anak-anak jalanan dan dari komunitas punk. Rumahnya disita karena gugatan.

Rumah karya milik Pemkot Kediri itu menjadi tumpuan hidup janda lima orang anak ini. Saat ini, waktunya ia habiskan di rumah yang berada Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri.

Sumiati tidak sendirian, dirinya terpaksa menumpang bersama keluarga anak bungsunya Enik Murtini (32), menantunya Mohammad Faisol (36), suami Enik dan dua orang cucunya, anak Enik.

Ketika ditemui, Sumiati tampak sangat bersedih. Tangisnya pecah saat ditanya perihal keberadaannya di rumah tempat anak jalanan. Sambil menangis, Sumiati menjawab sudah tiga bulan menumpang, sejak Pengadilan Negeri Kabupaten Kediri mengeksekusi rumahnya.

“Sebenarnya saya tidak betah di sini. Meski pun rumahnya bagus, tetapi lebih nyaman di rumah sendiri,” ucap Sumiati sambil mengusap air matanya, Kamis (21/9).

Sumiati, sesekali terlihat sesenggukan menahan kenyataan hidup yang berat yang harus ia jalani. Tetapi berusaha tegar karena tidak ingin memperlihatkan kesedihan di mata anak-anaknya yang lain.

Sumiati menceritakan eksekusi pengosongan rumah dilakukan PN Kabupaten Kediri, pada 17 April 2017 lalu. Sepuluh hari menjelang pelaksanaan, pengadilan mengirimkan surat pemberitahuan.

Ada tiga termohon eksekusi yaitu, Bambang Hartono, Enik Murtini dan Sumiati. Bambang Hartono adalah perantara peminjaman kredit ke bank asal Dusun Pilangbango, Desa Tarokan, Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri.

Sebenarnya Sumiati tidak tahu proses eksekusi. Sebab sebelumnya, ia sudah dibawa oleh Enik pergi dari rumah. Waktu itu Enik khawatir ibunya bakal shock berat melihat rumahnya diambil paksa bank.

“Saya disembunyikan oleh anak saya, sehingga tidak tahu pelaksanaan eksekusi. Tahu-tahu barang dari dalam rumah sudah dikeluarkan. Banyak barang yang rusak, banyak yang pecah,” kata Sumiati sembari meneteskan air mata.

Baginya rumah yang ia bangun bersama suaminya H Muradi yang berada di tepi jalan gang di Desa Ngablak itu sangat berharga. Bahkan, tak ternilai dengan apa pun. Rumah itu meninggalkan banyak kenangan bersama almarhum suaminya dan anak sulungnya Emi Asih yang kini memperkarakannya di PN Kota Kediri.

“Rumah itu kami bangun dengan susah payah. Saya bersama almarhum suami dan Emi Asih. Dia yang setiap pagi saya ajak ke pasar membawa belanjaan. Kami kumpulkan sedikit demi sedikit uang untuk membangunnya. Jika saya mengingat itu, rasanya sangat sedih sekali,” tambah Sumiati dengan mata berkaca-kaca.

Kini perasaan Sumiati bercampur aduk. Antara sedih karena kehilangan rumah penuh sejarah, dan kebingungan lantaran digugat oleh anak-anaknya sendiri. Bahkan, sebelum gugatan dilayangkan ke pengadilan, Sumiati sempat dibentak oleh kedua penggugat perihal rumahnya yang berpindah tangan kepada orang lain.

Baca juga : Kecelakaan Di Wonorejo Tewaskan Ibu Anak Asal Pasuruan, Malang Nasib Mereka

“Saya dibentak. Kenapa tidak memberitahukan masalah tersebut kepada mereka. Tetapi ini sudah terlanjur. Demi rasa sayang saya terhadap Enik Murtini. Saya pada waktu itu berpikir dia bisa memulai usaha. Bisa menyusul sukses bersama kakak-kakaknya,” katanya.

Meskipun dirundung kesedihan yang teramat mendalam, tetapi Sumiati sadar bahwa kasih sayangnya terhadap semua anaknya harus sama. Tidak hanya kepada Enik Murtini saja, tetapi kepada keempat saudaranya, termasuk kepada Emi Asih dan Lalan.

Sumiati sangat menyadari semua anaknya memiliki hak yang sama, termasuk hak waris peninggalan almarhum suaminya.

Di akhir wawancara Sumiati berharap masih ada keadilan baginya. Dia menginginkan rumah itu kembali ke tangannya dan bisa ditempati bersama anak-anaknya.

“Harapan itu sudah wajar bagi setiap orang yang sudah berusia senja. Ingin menikmati masa tuanya dengan anak anak dan cucunya,” pungkasnya.

 

Anak Durhaka Dari Ngablak Kediri Tega Polisikan Sang Ibu

Jangan Lupa Bagikan Informasi Ini Ke Saudara Atau teman Anda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here