Militan.co.id – Pondok Matholiul Anwar Sungelebak, Miliki Santri Dari Thailand, Baca Ceritanya Disini, Di Jawa Timur memiliki ratusan atau bahkan ribuan POndok Pesantren mulai dari yang kecil hingga yang besar, termasuk di Kabupaten Lamongan. Bahkan Di Lamongan Ada sebuah pondok yang sudah dikenal hingga level Asia Tenggara.

Keberadaan Ponpes di Lamongan tidak hanya konsentrasi dalam pendidikan agama.

Namun sudah berkembang lama untuk mempelajar ilmu umum, termasuk kurikulum yang dirancang pemerintah.
Bahkan banyak ponpes yang menjadi panutan sejumlah santri asal luar negeri untuk menimba ilmu.
Istilahnya mondok dari tingkatan Madrasah, Tsanawiyah, Aliyah hingga perguruan tinggi.

Seperti di Ponpes Matholiul Anwar, Simo Sungelebak, Kecamatan Karanggeneng, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.
Pondok di desa yang dekat dengan jalan kabupaten ini menunjukkan eksistensinya di kawasan Asia Tenggara.
Ini dengan adanya puluhan pelajar dan mahasiswa asal Thailand yang menempatkan PP Matholiul Anwar sebagai tujuan untuk memperdalam ilmu agama.

Baca juga : Emak Penipu Ini Diringkus Polres Lamongan, Begini Kisahnya

Pondok Matholiul Anwar SungelebakKeberadaan ‘santri’ asal Thailand ini bukan baru-baru ini saja. Mereka ternyata sudah lama nyantri di Ponpes ini.
“Ya ada 30 santri asal Thailand yang menimba ilmu di Ponpes ini,” kata salah seorang pengasuh ponpes, Saifullah Abid kepada SURYA.co.id, Minggu (10/9/2017).
Selain Thailand, kata Abid, di pondoknya juga ada santri dari Timor Leste.

“Ya memang ada yang belajar di sini dan sambil kuliah,” tuturnya.
Di PP Matholiul Anwar, mereka telah banyak belajar tentang ilmu agama.
Awalnya memang hanya kendala bahasa, namun dari tahun ke tahun tidak ada masalah.

Salah seorang santriwati dari Thailand, Nurul Yani mengatakan, setidaknya ada 30-an santri yang mondok di PP Matholiul Anwar ini.
Bahkan, kata Nurul, sepekan lalu juga telah datang 9 orang santri lagi ke pondok yang berada di Kecamatan Karanggeneng ini.

“Ada 9 orang teman baru asal Thailand. Baru masuk tujuh hari lalu, ” kata Nurul Yani.
Menurutnya, kebanyakan pelajar asal Thailand ini berasal dari tiga provinsi yang penduduknya mayoritas muslim.
Yakni bagian selatan semua, dari Provinsi Patani, Provinsi Yala dan Narathiwat.

Ia bersama teman-temannya memiliki beberapa alasan dengan memilih menimba ilmu di Ponpes Matholiul Anwar.
Selain karena beasiswa, Indonesia juga dekat dengan negara asalnya.

“Biaya hidup juga murah. Biasanya kami belajar ke Indonesia sama Mesir,” ungkapnya.
Dikatakan, selain menjadi santri di Pondok Pesantren yang didirikan pada 18 Januari 1914 ini, ada tiga siswa yang menempuh pendidikan di jenjang Madrasah Aliyah, setara SMA sebanyak tiga laki-laki.

Menurutnya, mereka tak hanya mengisi belajar ilmu agama dan di bangku perkuliahan saja selama di Lamongan.
“Kami tergabung di organisasi namanya himpunan keluarga mahasiswa Al-Hikmah Thailand (Hidmad). Kita di Lamongan berorganisasi selalu ada kegiatan, diskusi dan olahraga bersama,” ungkapnya.

Di Ponpes ini juga mendalami Manakib, Istiqotsah, yang langka ditemui Thailand.
Sementara, ngajinya khusus yang dari Thailand jadi satu dengan sudah “nyantri” di PP Matholiul Anwar selama empat tahun ini.

Yang menempuh belajar di Ponpes ini melanjutkan studi baik itu dijenjang Sarjana atau pun Pasca Sarjana di Universitas Islam Darul Ulum Lamongan (Unisda), dengan memilih berbagai jurusan.
Ada yang jurusan PAI, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, sama Matematika.

“Kuliah ada yang S1 dan S2,” tutur mahasiswi semester akhir Jurusan Bahasa Inggris ini.
Ada tiga siswa yang menempuh pendidikan di jenjang Madrasah Aliyah. “Tiga orang laki-laki semua,” ucapnya.
Kali pertama masuk, bahasa menjadi kendala utama dalam proses adaptasi selama berada di Indonesia.

Baca juga : Prihatin Rohingya, Rombongan Asal Lamongan Berhadapan Dengan Polisi

“Yang susah bahasanya, di sini kan banyak pakai Bahasa Jawa, kita biasanya pakai Bahasa Melayu. Satu tahun belajar bahasa, dan sekarang sudah lancar,” tutur Aini.
Terkait makanan memang menjadi kendala yang kedua.
Maklum saja, ada perbedaan cara memasak dan lauk pauk yang tersedia.

Di pondok masak sendiri, dan tidak suka tahu-tempe. Tapi senang makan soto, sate, pecel, kalau rujak suka sekali.
Terkait pergaulan, tak ada masalah. Dan bahkan main ke rumah teman di Tuban, Gresik, termasuk Lamongan.

 

Pondok Matholiul Anwar Sungelebak

Loading...