Tarif PSK Betiring

militan.co.id – Di Blitar Prostitusi Online Dengan Mami 20 Purel Diungkap Pihak Kepolisian, Bernama Anita, dia adalah mami dari beberapa Purel dan PSK yang dia bina di Daerah Blitar, Nasib Anita berubah ketika polisi menggrebek usaha haram yang dia lakukan itu. POlres Blitar menggelendeng wanita berbadan subur itu untuk dimintai keterangan.

Ibu tiga anak itu hanya diam sambil terus menunduk saat sejumlah wartawan menanayainya. Ia baru buka mulut saat Kapolres Blitar Kota, AKBP Heru Agung Nugroho, yang bertanya.
“Saya menyesal pak,” kata warga Sukorejo, Kota Blitar itu.
Anita terjerat kasus prostitusi online. Ia ditangkap polisi ketika sedang bertransaksi dengan pria hidung belang di sebuah hotel di Kota Blitar. Ketika itu, ia bersama seorang pekerja seks komersial (PSK) yang menjadi anak buahnya yang sudah dipesan pelanggan. Blitar Prostitusi Online

Blitar Prostitusi Online

Baca juga : Tarif PSK di Lokalisasi Betiring Gresik

“Tersangka ini sebagai mucikari. Dia yang mencari pelanggan dan menyiapkan hotel,” kata AKBP Heru Agung Nugroho.
Heru menjelaskan, dalam kasus prostitusi itu, tersangka memiliki koleksi beberapa perempuan muda mulai usia 24 tahun sampai 26 tahun. Perempuan-perempuan muda itu ditawarkan menjadi PSK ke pria hidung belang lewat sosial media. Hasil pemeriksaan sementara, tersangka menawarkan perempuan muda lewat sosial media facebook.

Tetapi dari barang bukti hasil screenshot percakapan tersangka dan pelanggan yang disita polisi, ada juga perempuan usia 18 tahun yang ditawarkan tersangka ke pelanggan. Di screenshot percakapan lewat WA itu tersangka menawarkan perempuan berusia 18 tahun dengan tarif Rp 500.000.

“Tersangka menyebar foto-foto anak buahnya di grup-grup facebook. Dari pemeriksaan sementara baru ada lima perempuan muda yang menjadi anak buah tersangka. Kami masih mengembangkan kasusnya,” ujar Heru.
Bagi pelanggan yang berminat akan melanjutkan komunikasi dengan tersangka lewat pesan WhatsApp (WA) maupun Blackberry Messenger (BBM). Biasanya, komunikasi lewat WA dan BBM ini untuk menentukan tarif, perempuan yang diboking, sekaligus hotel yang akan digunakan bertemu.

Tarif yang dipatok tersangka untuk para perempuan muda itu juga bervariasi, mulai Rp 400.000 sampai Rp 600.000. Tarif itu belum termasuk biaya hotel. Biaya hotel menjadi tanggungan pemesan.

Dari tarif itu, tersangka mendapat bagian Rp 150.000-Rp 250.000 per transaksi. Misalnya, kalau tarifnya Rp 400.000, berarti tersangka mendapat bagian Rp 150.000, sedangkan Rp 250.000 untuk PSK-nya.
“Sebulan dia bisa dapat Rp 20 juta dari bisnis ini. Pelanggannya bermacam-macam, ada yang pegawai (PNS) juga. Kami masih mendalaminya,” katanya.

Anita mengaku menggeluti bisnis prostitusi online ini baru empat bulan. Ia menjalankan bisnis itu tanpa sepengetahuan suaminya. Uang hasil bisnis esek-esek itu ia pakai untuk kebutuhan sehari-hari. “Suami saya marah setelah tahu saya ditangkap polisi gara-gara bisnis ini (esek-esek),” kata ibu rumah tangga itu.

Ia juga mengaku hanya memiliki tiga anak buah saja. Sedangkan dua perempuan muda lain yang juga ditangkap polisi, kata Anita, anak buah mucikari yang berbeda. “Anak buah saya hanya tiga. Saya baru empat bulan menjalankan bisnis ini,” ujarnya.

Kasus Pertama Diungkap

Kasus prostitusi online terbilang baru bagi aparat Polres Blitar Kota. Sebab, petugas Satreskrim Polres Blitar Kota baru kali pertama ini membongkar kasus bisnis esek-esek secara online. “Ini (prostitusi online) kasus pertama yang kami ungkap,” kata Kasat Reskrim Polres Blitar Kota, AKP Heri Sugiono.

Polisi butuh waktu lumayan lama untuk mengungkap kasus itu. Setelah mendapat laporan, polisi baru melakukan penyelidikan. Polisi mencari jaringan mucikari yang bermain di bisnis itu. Untuk dapat masuk ke jaringan itu, polisi juga harus menyaru sebagai pelanggan. Blitar Prostitusi Online

Blitar Prostitusi Online

Seperti saat hendak menangkap Anita. Polisi terlebih dulu menyaru sebagai pelanggan. Polisi berpura-pura memesan PSK ke tersangka. Begitu deal, polisi dan tersangka sepakat menentukan hotel untuk bertemu. Ketika sudah berada di dalam hotel, polisi baru menggerebek tersangka.
“Untuk masuk ke jaringan itu harus hati-hati, agar tersangka tidak curiga, makanya proses penyelidikannya lumayan lama, tiga bulanan,” ujar Heri.

Baca juga : Lamongan Masih punya lokalisasi Dengan Nama Suhadak

Dikatakannya, dalam kasus prostitusi online itu, polisi memang menetapkan enam tersangka termasuk, Anita. Tetapi, polisi hanya menahan Anita. Alasannya, Anita sebagai mucikari dan pelaku utama.
“Lima perempuan lainnya itu PSK, mereka hanya kami tipiring dan dilakukan pembinaan,” katanya.

Jangan Lupa Bagikan Informasi Ini Ke Saudara Atau teman Anda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here