SHARE

militan.co.id – Selamat Karena Terapi Rokok, Farida Ceritakan Kisahnya Disini, Sebuah Ruangan minimalis tertata rapi dan jam di ruang tersebut sudah menunjukkan pukul 14.00. Dan kami mulai mendengar derap suara kaki pelan. Muncullah Seorang wanita paruh baya mendekat dia bernama Farida berusia 53 tahun.

“Maaf Mas, saya izin merokok dulu ya,” ucap Rida mengawali perbincangan dengan Kompas.com, sembari dengan cekatan tangannya merogoh sebuah bungkusan plastik putih di balik kantong bajunya.

Terbaca jelas bungkusan berwarna putih itu berisi 10 batang lintingan rokok berlabel “Divine”. Dengan sangat santai, Rida mengambil sebatang rokok dan menyulutnya dengan begitu rileks.

Sejurus kemudian, asap putih tebal keluar dari mulut perempuan berjilbab merah itu. Di sela aktivitas merokoknya, Rida selalu tampil energik.

Berulangkali ia memperlihatkan sebatang rokok sedang diisapnya. Suasana diskusi pun berlangsung cair dan ramah, hingga ia berbicara panjang lebar ihwal awal mula rokok menjadi penyelamat hidupnya.  Selamat Karena Terapi Rokok

Selamat Karena Terapi RokokRida, yang saat ini berusia 53 tahun, tak menyangka dengan kondisi hidupnya saat ini. Ia seolah mendapat anugerah dari Tuhan berupa kesembuhan.

Jauh sebelum dalam kondisi yang sekarang ini, ia hampir pasrah menerima keadaan, yaitu ketika divonis menderita penyakit kanker stadium IVa.

Dia menyadari, dengan penyakitnya itu, harapan hidupnya menipis. Masa hidupnya tinggal menunggu waktu. Dia pasrah jika ajal menjemput. Namun sebelum ajal tiba, Rida berkelakar ingin akhir manis dalam kehidupannya.

Namun, takdir ternyata berkehendak lain. Rida justru diberi anugerah kesembuhan. Uniknya, proses penyembuhan dilakukan dengan tidak menjalani proses operasi.

Pengobatan dilakukan melalui melalui terapi “balur” rokok. Rida kini pun tidak lagi mengeluh kondisi tubuhnya. Ia mulai tahap penyembuhan.

Kanker ganas

Empat tahun lalu, Rida berkeluh kesah karena mendapati di bagian vitalnya tumbuh benjolan. Hampir tiap malam, tubuhnya lemas, dan mengalami pendarahan.

Perempuan yang aktif di kegiatan sosial ini juga mengeluh karena tidak bisa buang air besar. Keluhan-keluhan itu disampaikan ke rumah sakit. Namun tidak ada respons dari rumah sakit, terutama untuk mengetahui penyakit apa yang diderita.

Beberapa rumah sakit sudah disinggahinya untuk mendapat jawaban. Namun rumah sakit yang dikunjungi tidak membuahkan jawaban memuaskan.

“Saya itu awalnya merasa ada yang gak beres, susah buang air besar. Ada teman saya yang meninggal karena kanker usus, saya lalu mulai antisipasi. Saya USG, tapi gak tahu hasilnya. Di USG, hanya (terlihat) bercak putih di ginjal, kata dokter diminumin (air putih) sudah hilang sendiri. Sudah empat tahun kayak gitu lebih,” kata Rida, mengawali cerita.

Sejak saat itu, Rida mulai mengantisipasi agar penyakitnya bisa disembuhkan. Beragam cara dilakukan untuk mengetahui secara pasti penyakit apa yang dideritanya. Lambat laun, benjolan yang ada di tubuhnya membesar. Penyakit yang diderita pun berkembang. Selama 1,5 tahun terakhir, Rida buang air besar disertai darah.

“Temuan itu saya bawa sampai ke dokter bedah. Di dokter bedah itu bilang gak ada apa-apa,” aku Farida.

Dia merasa tak puas. Ia lalu berupaya mencari pengobatan dengan mencari salah satu dokter spesialis di salah satu rumah sakit di Semarang. Di dokter itu, mulai ditemukan penyakitnya yaitu terindikasi menderita usus besar.

Di dokter spesialis itu, Rida menjalani proses pengobatan rawat jalan. Namun, beberapa waktu terakhir ia mengalami pendarahan besar hingga akhirnya tidak sadarkan diri atau pingsan.

Rida lalu dibawa ke rumah sakit untuk perawatan intensif. Sepakan dirawat di rumah sakit inilah, penyakit yang sesunguhnya ditemukan.

Rida divonis mengidap kanker ganas, dan diharuskan untuk operasi. Dalam hasil USG, tingkat keparahan sudah mencapai tingkat 4A.

“Mengetahui itu, saya down. Suami saya gak mau kalau saya operasi,” ujar Rida, yang kemudian memutuskan untuk tidak menjalani operasi.

Rida sempat putus asa atas keadaan ini.

“Padahal stadium 4A itu harapan kesembuhan saya sedikit. Keluarga sudah pada menangis,” aku Rida.

Tenaga pendidik di kampus di Semarang ini pasrah jika ajal menjemput.

Terapi rokok

Rida tidak sengaja bertemu teman aktivis sosialnya bernama Ani, perempuan asal Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Ani menyarankan Rida untuk melakukan terapi rokok. Ani sebelumnya terbaring lumpuh, namun melalui terapi itu, kelumpuhannya bisa sembuh.

Rida merasa heran, lalu menelusuri saran itu. Dia pun mencari tahu proses penyembuhan melalui terapi rokok hingga akhirnya menjalani proses terapi rokok di Griya Balur, di Kudus, Jawa Tengah.

Di lokasi itu, Rida menjalani terapi rokok sekali dalam sepekan. Kondisinya kini mulai membaik, dan dia bisa kembali beraktivitas.

“Saya merasa terbantu menjadi lebih kuat, lebih sehat dibarengi dengan terapi akupreser,” kata dia, yang saat ini aktif kembali mengajar di salah satu perguruan tinggi negeri ini.

Rida pun merasa bersyukur karena diberi karunia kesehatan. Saat ini, Rida masih terus menjalani terapi kesehatan itu. Proses pendarahan memang masih terjadi, tetapi bisa dikendalikan.

Proses terapi sendiri diawali dengan pembaluran, untuk membuka dan mengeluarkan racun dari dalam tubuh. Pembaluran efektif dilakukan oleh anak kandung, karena kesamaan DNA.

Oleh karenanya, keberadaan sang anak di sisi mereka yang menderita penyakit sangat membantu dalam proses terapi rokok ini.

“Setelah pengobatan lima minggu, saya sudah bisa pergi ibadah umrah. Sejak saat itu, balurnya seminggu sekali,” sambung dia.

Pengelola Rumah Sehat Malang, dr Saraswati menjelaskan, bahwa pengobatan melalui tembakau dikembangkan melalui temuan dari Dr Greta Zahar, seorang ahli fisika dan kimia asal Indonesia. Pengobatan melalui terapi balur ini di Jawa Tengah dibuka di Kota Semarang, Kudus, dan Sukorejo, Kabupaten Kendal.

Pengobatan melalui tembakau untuk membuktikan secara ilmiah bahwa segala yang dibuat oleh Tuhan mempunyai manfaat yang baik bagi tubuh. Dalam kadar tertentu, tembakau bisa berfungsi secara baik untuk kesehatan. Kandungan nikotin dari bisa dimanfaatkan untuk kepentingan kesehatan.

“Dalam nikotin itu kan ada aurum dan itu hal yang positif. Aurum bisa bermanfaat, pabrik farmasi menggunakan dalam kadar tertentu baik untuk manusia. Dalam standar WHO, ada kadar sekian, dan bisa digunakan dengan tidak berlebihan,” kata Saraswati,

Saraswati menguraikan bahwa ada sisi positif dari tembakau yang bisa dieksplorasi untuk kesehatan. Tembakau yang dibuat untuk rokok kesehatan berbeda dengan rokok produksi pabrik. Selamat Karena Terapi Rokok

Selamat Karena Terapi RokokTembakau yang dibuat diberi tambahan asam amino yang berfungsi untuk membunuh radikal bebas dari dalam tubuh. Racun dari dalam tubuh bisa muncul melalui saluran udara atau oksigen, pola makan, dan aktivitas keseharian lainnya.

Pola mengeluarkan racun dari dalam tubuh, sambung Saraswati, bisa dilakukan melalui terapi, apakah melalui pola balur, rokok, hingga kopi.

“Jadi pola detoks ini tidak hanya untuk orang sakit, orang yang sehat saja bisa. Terapi balur ini untuk menjaga daya tahan tubuh agar tidak mudah sakit,” tambahnya.

Salah satu tenaga balur dari Griya Balur Semarang, Mulyanto mengatakan, terapi balur biasanya menggunakan tembakau sebagai bahan untuk pembongkaran racun.

Rokok yang dipakai saat awalnya biasanya nomor 2 dan 19, yang berfungsi sebagai pembongkaran racun, dan mengangkat merkuri dari dalam tubuh.

Pola detoks dilakukan untuk melakukan regenerasi sel tubuh. Pola pengobatan ini tidak berbahaya, karena tidak menggunakan bahan campuran. Tembakau tidak dicampur caos, seperti batang rokok pabrikan pada umumnya.

“Pengalaman saya sendiri, saya dulu asam urat dan rematik. Saya dibalur, jadi sembuh. Sekarang nafas bisa lebih bagus. Kondisi sudah lumayan, tidak kecanduan rokok lagi,” kata dia.

Loading...